link menu

Senin, 24 November 2014

Pesona gunung merbabu.



ini sebuah cerita dari satu perjalanan yang kita lakukan di bulan juli, satu cerita tentang pendakian gunung yang kita lakukan bersama. inilah komposisi tim kami dalam perjalanan : 

Pesona gunung merbabu.


Ecang, veteran Ciremai yang kali ini ikut lagi bareng rombongan kita untuk mendaki. Parasnya yang polos tidak menunjukan bahwa dirinya adalah orang yang sangat humoris

Mia odenx, BP ISEG yang merangkap sebagai bagian Existensi Eforest yang bertugas untuk foto-foto. Kali ini setelah sekian lama tidak nanjak ia ikut juga. Dengan berbagai perlengkapan barunya yang serba biru kita lihat sepak terjangnya.
Radit, mahasiswa IESP yang baru pertama kali ikut rombongan kita menunjukan sepakterjangnya dalam pendakian kali ini. Badan yang tinggi dan besar mampu meyakinkan kami bahwa dia orang yang kuat.
Tari, akhwat alumni gunung geulis ini baru pertama ikut mendaki dengan destinasi yang cukup jauh. Tapi dengan kepolosan dan semangatnya apakah ia mampu membuktikan untuk bisa mencapai puncak gunung yang akan kita tuju.
Mas gun, pujangga asal kampus sebelah yang merupakan artis tumblr dengan begitu banyaknya pengagum dan fans-fansnya dan tampaknya sulit sekali lepas dari gadgetnya. Satu kehormatan dapat bertemu dengan artis tumblr yang kadang tulisannya memang sangat menyentuh dan mewakili perasaan (orang-orang).
The annies penghuni kampus sebrang (dulu) ini berperawakan tinggi dan tampak sangat kuat, kemampuannya dengan kegiatan Alam sudah tidak dipertanyakan lagi. Wanita tangguh yang sudah menginjakan kaki di beberapa puncak tertinggi di Indonesia ini berencana mengikuti Pendidikan Dasar Wanadri (PDW) tahun depan (mau jadi apa toh kamu ni…?). ia termasuk veteran dalam pendakian, sangat senang bisa saling kenalan
Citra, akhwat kusut yang senang mendaki ini ikut juga. Ketua mountainering EForest ini kusut banget, dengan kondisi fisiknya yang memang sedang dalam penyembuhan ia masih saja kekeuh untuk naik gunung. Perlu di acungi jempol buat tekadnya yang kuat untuk bisa mendaki walau kadang keras kepalanya itu serasa minta dijitak. Dia ini yang sering juga nemenin nanjak di beberapa gunung yang pernah saya kunjungi, semoga masih bisa nanjak bareng lagi ya.  
Mba liya, akhwat jogja temannya mas gun, dengan logat jawa yang khas ia ikut rombongan kita. Sempat vakum mendaki beberapa waktu kali ini ia siap lagi untuk berkutat dengan tanah pegunungan.
Luthfi, orang pinter-pinter-kusut, dengan jokes yang khas pria lajang dengan kapasitas otak yang encer dan pembicaraan yang berbobot ini salah satu sepuh di EForest. Pengalamannya mendaki sudah tidak dipertanyakan lagi, jika mendaki bareng dia maka dia adalah orang yang sangat bisa diandalkan.
Gilang, ini saya nih, orang kece pemilik blog TAFAKUR, pendakian kali ini saya berharap bisa sangat menyenangkan seperti biasanya. Kerinduan untuk nanjak disela kesibukan pekerjaan di bandung harus tetap di upayakan bisa terpenuhi. Pendakian kali ini pun harus saya bayar dengan “harga yang mahal” tapi saya piker itu tidak masalah untuk sebuah passion dan pembelajaran. Sesi perkenalannya cukup dulu, kita akan mulai kepada sebuah kisah yang luar biasa, Pesona Alam gunung merbabu.
***
Perencanaan perjalanan ini sudah di wacanakan sejak bulan mei 2014, kerinduan untuk menginjakan kaki di ketinggian dan melepas kepenatan akan hiruk pikuk kota menjadi sebuah harapan saat itu. Awalnya saya tidak yakin bisa ikut, karena ada pekerjaan yang memang harus diselesaikan. Pengkondisian tim, perencanaan tanggal, dan pembuatan anggaran pun dimulai. Maklum banyak mahasiswa dalam rombongan kami, kami harus atur-atur urusan jadwal, karena memang masa-masa Ujian Akhir Semester.  Sampai pemesanan tiket akhirnya saya putuskan untuk ikut dengan segala konsekuensi, membawa pekerjaan ke gunung. Hahaha.
Jumat 21 juni 2014 menjadi hari yang bersejarah bagi saya. Hari dimana pertama kali naik kereta. Kami pergi menuju stasiun kutoarjo, kota purworejo. Perjalanan dengan kereta kutojaya selatan ini memakan waktu 8 jam perjalanan, kami kebagian duduk di gerbong pertama, paling depan. Kejadian lucunya adalah kami janjian untuk ketemu di stasiun kiaracondong, setelah yang lain kumpul ternyata dua orang belum ada, luthfi dan tari, ternyata mereka berada di stasiun sebelah selatan, sedang kita di sebaliknya. Masalahnya adalah tiket kita yang pegang, buru-burulah kita menjemput mereka ke sebrang kereta. Duh..
Kita di dalam kereta selama 8 jam, kereta berangkat jam 21.05. rombongan lengkap ecang, radit, tari, mia, lutfi, gun, annies, citra, dan saya. Kita menghabiskan malam dengan ngobrol, tidur, dan aktifitas masing-masing, sebut saja baca jurnal -_-. Bocoran, sepanjang malam Citra terus ngoceh, ngomong terus gangguin orang - orang yang lagi tidur, buset ga ada capenya -_-. Malam pun kita lalui di dalam kereta, beberapa stasiun kita lewati dengan hanya mendengar suara para pedagang asongan yang menawarkan makanan, popmie, tempe mendoa, nasi, kacang, mijon, luar biasa, dan tidak sedikit yang berjualan itu adalah ibu-ibu yang sudah berumur, bayangkan jualan tengah malam, masya Allah, harus banyak bersyukur lagi kita ini.
Menjelang subuh hari, kita tiba di setasiun kutoarjo, stasiun kecil yang saat itu sudah terlihat ramai dengan orang-orang yang mau menaiki kereta. Sejenak kami shalat dan langsung menuju luar stasiun, perut lapar kami menyimpang ke warung soto dan Alhamdulillah masih bisa makan dengan harga yang murah. Kemudian kita lanjut ke terminal purworejo untuk langsung meluncur ke magelang. Sekitar 15 menitan kita sudah sampai terminal, jalan yang sepi dan lancer, Susana yang sejuk, dan obrolan dengan bahasa jawa yang sama sekali tidak saya mengerti. Kami naik bis mini yang ongkosnya tidak terlalu mahal dengan waktu tempuh sekitar 2 jam estimasi kita, realitanya hanya 1 setengah jam, buset supirnya masya Allah maa…. Sampailah kita di terminal magelang.
Terminal magelang kita istirahat sejenak dan packing ulang untuk barang-barang yang belum masuk ke ransel, disini kita ketemu dengan satu rombongan kita juga dari jogja, mba liya, ia sampai 20 menit setelah kita tiba di terminal. Dengan demikian lengkaplah rombongan kita untuk menuju kaki gunung merbabu.
Jalur wekas adalah salah satu jalur untuk menuju puncak gunung merbabu, sekitar 1 jam dari terminal kami sampai dan langsung melanjutkan perjalanan dari gerbang awal pendakian. Dengan gagah berani dan ransel kita yang besar-besar kita melanjutkan dengan berjalan kaki tepat dari gapura bawah, jalan utama. Ternyata jauh juga, untuk mencapai basecamp, perjalanan sekitar 2 jam dari bawah Perlu kita tempuh.
Sejenak istirahat dan memperisapkan perbekalan kita siap lanjut untuk jalan, target kita adalah untuk mencapai pos 2 sebelum malam hari tiba. Kami berangkat setelah waktu ashar, perjalanan pun dimulai, trek perjalanan yang saya rasa sangat enak untuk dijelajahi, pemandangan yang menarik di tengah banyaknya pohon-pohon pinus. Perjalanan menuju pos 2 kami estimasikan selama 3 jam saja, dan kami benar bisa sampai pos dua pada waktu yang direncanakan yaitu waktu magrib.
Penampakan malam itu luar biasa, banyak rombongan lain yang camp di lokasi yang sama sambil mendirikan tenda, ada yang memasak air, kurang lebih sama dengan rombongan kita ada juga yang leyeh-leyeh.
Singkat cerita malam itu kami segera makan tidak banyak obrolan yang terjadi hanya sebatas perencanaan untuk menuju puncak kita akan berangkat jam 4 dini hari. Satu hal lagi ternyata tenda kita yang tiga harus kita bagi. Satu tenda diisi oleh para kaum hawa, satu tenda disi oleh saya dan mas gun, dan satu tenda lagi cowo sisanya. Yelah… tidur beduaan. entah malam ini sungguh berbeda. Tapi aku berusaha menikmati malam itu, walau terlihat dilluar ada seorang wanita yang masih terduduk diluar sambil memandang bintang dilangit. Ya si wanita bintang, siapapun itu.
Jreng, seperti biasa kalo waktu-waktu pendakian, pasti rasanya malam itu lama sekali. jam 4 harus bangun pun tidak jadi masalah, karna tidurnya ga kebo juga. Sedikit seduh-seduh minuman hangat sambil prepare buat nanjak. Kita meninggalkan barang di dalam tenda, walau entah satu pisau eiger punya gun tetiba menghilang entah kemana. Kita hanya membawa dua ransel berisi minuman, snack dan medic kit.
Kita menjadi bani israil, dalam arti orang yang berjalan malam, bukan seperti mahluk keji dan hina seperti kaum zionis yahudi. Selepas berdoa bersama, kita susun urutan berjalan. Ini kebiasaan kita, kita selalu jalan bersama tanpa meninggalkan satu kawan pun, “kebersamaan lebih indah dari pada puncak” masih menjadi tagline kami. Perjalanan malam yang saat itu cukup cerah, kita lalui dengan santai. Banyak kita jumpai dan saling salip menyalip dengan rombongan lain. Kita terus berjalan, sayaup suara adzan subuh berkumandang dari kejauhan terdengar, tentu sebagai seorang muslim kita tetap tidak boleh meninggalkan kewajiban kita. Jadi tetep solat walau lagi nanjak #muslimpendaki.
Kita shalat di lembah Antara pemancar dan jalur menuju puncak. Setelah shalat kita lanjutkan perjalanan, sepanjang perjalanan mega oranye sudah mulai tampak, batas hitam dan putih sudah semakin terlihat. Sejenak kami menikmati sunrise yang tidak sempurna karna masih terhalang oleh puncak gunung, ya kami tidak berhasil menyaksikan sunrise di puncak, hehe sayang sekali. tapi bukan masalah. Masih ada perjalanan yang harus di lanjutkan. Perjalanan dari xxx sampai ke puncak cukup memakan waktu, sekitar 2 jam. Kami baru tiba di puncak syarif ketika matahari sudah cukup tinggi saat itu menjelang pukul 7 pagi. Seperti biasa kami selalu mengambil foto sebagai anti thesis terhadap no pic hoax, narsis memang sudah mengalir dalam darah kami tampaknya hahaha. Tak lama di puncak kami ingin melajutkan perjalanan ke puncak berikutnya. Nah disini, ada yang lucu, ecang ama tari dah mau mundur, mau nyerah ga mau ikut menuju puncak berikutnya karna emang sudah lapar dan cape. Ya apa boleh buat, dibujuklah dengan iming” indomie yang bisa di minta dari pendaki lain di puncak, dan bujukan ku memang ampuh banget. Hahahaha. Walau pada akhirnya mereka tidak mendapatkan indomie, Cuma dapet roti dan madu saja, mayan lah ya… yang penting dapet dua puncaknya.
Perjalanan di lanjut menuju puncak kenteng songo, atau Sembilan genting. Perjalanan tidak terlalu lama untuk mencapai sini, sekitar 20-30 menit saja, hanya kita akan dihadapkan dengan trek yang sangat menarik, panjat tebing donk. Satu jalur yang memang dilalui dengan memanjat tebing yang setinggi 3-4m, tapi bisa dilalui denegan berjalan menyamping juga sih, jadi tidak perlu khawatir masih bisa dilalui meskipun dengan membawa carrier. Kentrng song dengan mitos dan ceritanya yang cukup aneh memang sempat membuat ku penasaran, tapi ah masa bodo, Cuma foto” aja kenteng-kentengnya itu yang tidak sampai Sembilan jumlahnya. Duduk-duduk bentar dan ternyata masih ada satu puncak lagi yang bisa di daki, sayang tidak semuanya ikut ke puncak ketiga, puncak triangulasi, ni citra narsisnya minta ampun, banyakan foto dial ah. Ckckck. Puncak triangulasi ini menurut saya adalah yang sangat menarik, karna posisinya yang bagus langsung berhadapan dengan puncak merapi. Puncak merapi yang penuh dengan sisa letusan beberapa waktu lalu yang sempat menggubur kota sekitar dengan abu vulkanik, dan menewaskan kuncen mbah maridjan yang jadi salah satu bintang iklan minuman energy. Gunung merapi terlihat begitu luar biasa, satu wujud kegagahan dan kekuasaan tuhan dalam penciptaannya, aku merasakan ketakutan ketika melihat dari kejauhan, entah seolah murka tuhan terlihat dari gunung tersebut. Wallahualam. 
Tidak lama kami kembali melanjutkan perjalanan untuk menuju camp, karna memang sudah lapar juga ya turunlah kami segera. Ternyata terdapat satu jalan alternative untuk bisa mencapai pos dua dari puncak. Jalur yang kami lalui itu melewati kawah gunung merbabu, terdapat sumber air panas yang tidak terlalu besar dan bau belerang yang cukup menyengat. Perjalannanya ternyata cukup landai, dan kita keluar di persimpangan batu besar setelah pos dua. Jadi tidak terlalu lama kita bisa kembali ke tempat camp.
Kami tiba di tempat camp menjelang tengah hari, segera menyiapkan makan karna perut kita yang sudah sangat keroncongan dari pagi hari. Sejenak beristirahat dulu deh. Ketika kami istirahat memang satu persatu pendaki yang lain meninggalkan tempat camp, kami termasuk rombongan terakhir yang meninggalkan pos2. Setelah packing dan siap jalan, ya kita berdoa untuk segera pulang. Sekitar pukul tiga kita bergerak untuk menuju pos awal pendakian.
Perjalanan cukup cepat, menjelang magrib kami sudah tiba di pos pendakian, walau ada dua orang kusut yang nyasar karna sotoy.. hahhaa. Tapi alhmdulillah masih bisa balik lagi. Istirahat sebentar sambil mempersiapkan diri untuk pulang, kali ini naik mobil bak :D. yeee. Kami naik mobil bak sampai ke kota untuk terus melanjutkan ke kota jogja. Kisah jogja di pisah ya. J
Begitulah kisah pendakian gunung merbabu, pendakian spektakuler selalu kami alami. Keindahan Alam ciptaan sang maha pencipta seharusnya bisa menjadikan kita semakin dekat dengan tuhan. Salam lestari sobat-sobat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar